Seperti biasa, sabtu pasti belanja. Preston market adalah salah satu pasar traditional (pasar biasa hampir sama kaya peunayong) yang ada di Melbourne dan suburb2nya. Lumayan asyik, bisa belanja hampir semua barang yang biasa dikonsumsi di Aceh. Bedanya sama di Banda ato di teupin raya tempat asal kami mungkin kalo dilihat dari umur para penjualnya. Kalo di kampung mungkin yang jualan banyakan nyak2, tapi disini banyak cewek2 yang rata2 mahasiswa international yang sebagian besar berasal dari negara2 Asia. Kalo Preston Market khususnya, 'dikuasai' oleh orang2 Viet Nam. "Kok banyak kali orang Vietnam sini Bang?" suatu kali aku tanya sama bangkis. Katanya awal2nya dulu orang2 Viet Nam ini ke Australia karena mengungsi dan menyelamatkan diri dari Perang Viet Nam tahun 60an and 70an. Dulu ceritanya Australia sangat toleran dengan para korban perang dan pencari suaka dari negara lain.
Naahh, hari ini, nasib kami sedikit kurang beruntung dari yang lainnya. Mulai dari berangkat, kami udah harus lari2 ngejar tram. Untung kami datang dari arah depan tram, jadi supirnya yang kebetulan perempuan bisa melihat kami dan menunggu sebentar. Biarpun sang supir kelihatan sedikit upset dan melambai2 ke arah kami agar lari lebih cepat dan nunjuk2 ke jam di tangannya, akhirnya kami sampai juga ke Tram. Bangkis lari sedikit di deopanku karna kalo ngga tramnya pasti ngga nunggu. Kami naik dari pintu deopan tram. "Quick" kata sang supir pas bangkis udah di tangga tram. "Sorry, she's pregnant" kata bangkis setengah berbisik. "oh, I'm really sorry" supirnya minta maaf. "No, you're allright" kata bangkis. Aku di belakang bangkis juga bilang "thank you" ke supir. Supirnya senyum sambil dengan ramahnya bilang "no worries." Abis validate tiket, kami langsung duduk narik napas panjang. "Sorry guys, u know what, it's understandable." kata supir lagi setengah berteriak sambil ngelirik ke kami dari kaca spion above her head. "No. u allright, thank you", kata bangkis lagi.
Waahh, ramah juga supir ini, pikir kami. Di stop 49 kami turun, turunya lewat pintu depan lagi, karna lebih dekat. Mo bilang thank you, ternyata dia udah duluan ngucapin "Congratulations". Trus senyum dan melambaikan tangan dan berlalu tramnya ke arah city.
Jam tiga kami sampe di pasar preston, pasar ikan udah pada tutup, tinggal pasar2 sayur2an aja yang udah sedang tutup juga. Untungnya kami ngga perlu beli ikan, karna setelah ke klinik kamis kemaren dokter bilang haru mengurangi makan ikan karna banyak mengandung mercurie dan ngga bagus buat kesehatan.
Jadi setelah membeli sayur2 dan buah2an secukupnya, kami ke Halal Meat, tapi apa boleh bulat, emang udah dasar telat halal meat nya juga tutup sudah. Jadi, kami putusin ke toko Vietnam langganan kami buat cari tambahan bumbu2. Setelah merasa cukup semuanya, termasuk ungkot kareng, kami ke counter, mo bayar. Eh, di counter ternyata ada telur bebek, kayaknya udah asin, "Bang tablo boh itek masen saboh jeut?" "keupeu dek? eunteuk ka hana mangat lom lagee uronyan" jawab bangkis karena hari itu kami udah dua kali beli telur bebek, tapi ga ada yang enak. "Aci abang tanyeng ilee, kadang golom masen" aku minta bangkis buat nanyain ke yang punya toko karena memang lagi pengen nih kayanya. Setelah tanya ternyata itu "baby duck egg". Awalnya kami agak bingung apa itu baby duck egg, apa anak bebek udah punya telur? tapi kayanya ngga mungkin, trus bang kis nanya lagi. "It's baby duck egg, baby duck in the egg", kata si yang di counter sambil senyum. "Na aneuk itek hai dek lam boh itek nyan" kami pun tertawa, kayanya seumur2 belum pernah makan telur bebek yang ada bayinya di dalam. "People eat them?" bangkis nanya lagi. Kami belum bisa percaya ada yang makan telur yang ada anak bebeknya didalam. "yea, yea, it's healthy, really nice, want to try?" "not today, thank you", kami langsung bayar and cabut pulang sambil tertawa. "Nyan kon karab sama ngen tapajoh boh itek kom cit" kata bangkis.